Sabtu, 30 Oktober 2010

Berawal Tidak Sengaja

Apakah semua penemuan yang ada berasal dari sebuah penelian yang sulit?? Ternyata tidak, karena ada juga penemuan yang berawal dari tidak sengaja. Para penemu juga tidak selalu orang yang pandai , berwawasan luas, dan berpendidikan tinggi. Namun semuanya bergantung pada bagaimana kita mampu berkreasi dari hal yang sederhana hingga mampu menjadi besar, karena sesuatu yang kita temukan bermanfaat juga bagi orang lain. Sebagai contoh....
Kembang Api
Berabad-abad tahun yang lalu di China. Seorang koki salah membuat bahan untuk membakar masakannya . Ia mencampur belerang, kalium nitrat, dan arang kayu ke dalam bambu. Saat dibakar, campuran itu meledak dan menimbulkan percikan api. Tetapi percikan api itu malah terlihat sangat indah. Esoknya koki dengan sengaja membuat campuran bahan itu. Namun kali ini tidak di nyalakan di dapur lagi, melainkan di halaman rumah bersama anak-anaknya. Banyak orang yang terpikat dengan percik api yang indah itu. Itulah pertama kalinya muncul kembang api.
Puzzle
Pada tahun 1767,Guru Geografi di London bernama Pak John mengajari murid-muridnya mengenai peta Wales dan Inggris. Ia menggambar peta itu di papan. Kemudian ia memotong setiap kota menjadi sebuah potongan. Setelah itu ia menyuruh muridnya untuk menyusun potongan papan tadi. Setelah saat itu bukan hanya peta yang dibuat banyak juga gambar lainnya. Kemudian, Pak John menjual barang itu ke sekolah-sekolah untuk di jadikan alat belajar. Karena ide awal Pak John itulah sekarang kita mengenal puzzle.
Cone
Pada tahun 1904,Pak Arnold Fornachau sedang berjualan es krim di World’s Fair. Setiap ada yang membeli es krim itu di taruh di atas piring kertas. Saat itu pembeli sedang ramai dan piring kertas itupun habis. Waktu itu Pak Fornachau melihat penjual zalabia. Zalabia adalah semacam wafel kering dan tipis. Diborongnya zalabia itu, kemudian Pak Fornachau membentuknya seperti cone. Hasilnya? Jadilah ice cream cone.

Plester
Pada tahun 1921, seorang Ibu bernama Josephine Dickson sering terluka jarinya ketika sedang memasak. Setiap kali luka ia menutup jarinya dengan kain kasa dan mengikatnya dengan plester. Namun, kain kasa itu sebentar-sebentar lepas dari jarinya.
Suami Bu Dickson. Pak Earle Dickson, kasihan pada istrinya. Diambilnya plester dan kain kasa. Lalu plester dan kain kasa itu digunting sesuai ukuran. Kemudian kain kasa itu di letakkan di tengah-tengah plester. Baru di lekatkan di jari Bu Dickson yang terluka. Semenjak saat itu Bu Dickson dapat memasak dengan nyaman.
Ide Pak Dickson itu terdengar oleh atasannya. Kebetulan, Pak Dickson juga bekerja di perusahaan alat kesehatan. Kemudian ide itu di kembangkan dan dijual untuk umum yang kita kenal saat ini sebagai plester luka atau band-aid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar